Tanam Kurma

Kesadaran akan pentingnya ibadah di kalangan muslim Indonesia setiap tahunnya meningkat. Mulai dari meningkatnya jumlah anak didik yang bersekolah di sekolah islam, menjamurnya layanan zakat akibat banyaknya orang yang berzakat, maraknya pengajian di perkantoran, hingga tren umroh sebelum berhaji. Apalagi banyaknya agen travel umroh yang menawarkan paket layanan umroh promo dengan kualitas yang baik. Sehingga melakukan ibadah umroh / umrah tidaklah sesuatu yang aneh saat ini.

Setelah beribadah umrah di Makkah dan Madinah, para rombongan umroh biasanya menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh atau souvenir untuk dibawa pulang sebagai buah tangan buat para sanak saudara, tetangga, teman kantor hingga relasi bisnis.

Kurma

Sesuatu yang sangat aneh jika anda tidak membawa oleh oleh kurma, karena ikon negara arab adalah kurma. Hanya saja, jika kita tidak berhati-hati maka kurma yang kita beli di daerah arab sana tidak memuaskan selera atau kantong kita karena harga yang ditawarkan disana belum tentu lebih murah dibandingkan kalo kita beli di Indonesia. Iya, memang saat ini sudah banyak sekali toko yang menjual kurma dengan berbagai harga. Mulai dari kurma ajwa yang harganya mahal sekali hingga kurma dengan harga murah, bahkan kurma muda yang banyak dicari oleh pasangan. Tentu ini sangat cocok buat anda yang tidak ingin repot membawa ribuan kilometer dari arab sana hanya untuk membawa membawa beberapa puluh kilogram kurma.

Selain ikon negara Arab, kurma memiliki banyak manfaat,salah satunya adalah buah kurma sebagai penangkal racun dan sihir.

Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa pagi hari memakan tujuh butir kurma maka dia tidak akan terkena racun dan sihir.” (HR. Bukhari).

Manusia sudah mengenal sihir ribuan tahun lalu saat Nabi utusan Allah mengajarkan ajaran tauhid kepada kaumnya, barbagai penemuan Arkiologi Mesir Kuno dan Yunani Kuno juga membuktikan masyarakat pada saat itu sudah mengenal sihir. Pada zaman Rasulullah praktek sihir pun berkembang, bahkan Rasulullah pernah terkena sihir. Pelakunya adalah seorang yahudi bernama Lubai bin Al-‘Asham yang telah menyimpan beberapa helai rambunya dan disimpan di sumur Zarwan di Madinah ketika bermaksud menyihir Rasulullah.

Selain untuk penangkal sihir, masih banyak lagi manfaat kurma untuk kehidupan. Jadi selain untuk oleh oleh, kurma juga sangat dicari untuk segudang manfaatnya.

Cara Tanam Kurma

Oleh-oleh yang satu ini membuat saya penasaran untuk mencoba menanamnya, kemudian saya coba mencari beberapa referensi bagaimana cara menanam kurma, dan terus saya praktekan.

Tidak sulit seperti yang saya bayangkan ternyata untuk menyemai biji kurma cukup dengan merendam biji tersebut selama kurang lebih 3 hari dan setiap hari air rendaman tersebut kita ganti, setelah 3 hari perendaman kemudian biji kurma tersebut kita bersihkan, setelah dibersihkan saya menyimpan biji kurma tersebut didalam sebuah wadah tertutup dimana wadah tersebut sudah diberikan tisu basah, kurang lebih 1 minggu biji kurma tersebut sudah mengeluarkan akar, yang artinya biji tersebut sudah siap tanam.

DSC_0003

Media tanam pun saya menggunakan bahan-bahan yang sangat mudah didapatkan yaitu, kompos, sekam bakar, tanah, dengan perbandingan 1:1

DSC_0006

jadi.. apakah pohon kurma itu akan tumbuh? kemudian berbuah? ya.. hanya waktu yang akan menjawab semuanya.. semoga bermanfaat.

 

Advertisements

Tanam Sawo

sawo
agrowindo

Sawo adalah salah satu jenis buah yang sudah sangat populer di Asia tenggara, terdapat beberapa jenis sawo seperti Sawo Mentega, Sawo Manila, Sawo Kecik, dan Sawo Duren. Sawo memiliki manfaat yang baik untuk kesehatan diantaranya : Dapat dijadikan Obat Diare, Dapat membantu proses pembentukan sel darah merah karena kandungan asam folat didalamnya, Dapat mengatasi radang mulut, Dapat membantu pembentukan dan menjaga kesehatan tulang, Dapat menjaga kesehatan mata, Dapat mencegah kanker usus dan lain sebagainya.

Karena sawo memiliki banyak manfaat, banyak orang yang melakukan budidaya sawo ini. Tidak hanya menanam di lahan kebun atau pekarangan, tak jarang orang melakukan penanaman atau budidaya sawo di dalam pot.

Perbanyakan tanaman sawo secara generatif dengan biji memiliki keunggulan dan kelemahan. Bibit yang berasal dari biji memiliki perakaran yang kuat dan dalam. Akan tetapi perbanyakan secara generatif hampir selalu memberikan keturunan yang berbeda dengan induknya karena ada pencampuran sifat kedua tetua atau terjadi proses segregasi genetis. Tanaman sawo yang berasal dari biji mulai berbuah pada umur ± 7 tahun.

Memang banyak yang menjual benih sawo yang sudah siap tanam, tetapi penanaman buah yang berasal dari biji memberikan kepuasan serta kesabaran terdendiri.

Cara Tanam Sawo

 

Tanam Manggis

Manggis (Garcinia mangostana L.) adalah sejenis pohon hijau abadi dari daerah tropika yang diyakini berasal dari Semenanjung Malaya dan menyebar ke Kepulauan Nusantara. Tumbuh hingga mencapai 7 sampai 25 meter. Buahnya juga disebut manggis, berwarna merah keunguan ketika matang, meskipun ada pula varian yang kulitnya berwarna merah. Buah manggis dalam perdagangan dikenal sebagai “ratu buah”, sebagai pasangan durian, si “raja buah”. Buah ini mengandung mempunyai aktivitas antiinflamasi dan antioksidan. Sehingga di luar negeri buah manggis dikenal sebagai buah yang memiliki kadar antioksidan tertinggi di dunia.

manggis
vebma.com

Manggis berkerabat dengan kokam, asam kandis dan asam gelugur, rempah bumbu dapur dari tradisi boga India dan Sumatera.

Manggis merupakan sebuah pohon tropis yang tumbuh dalam suhu hangat dan stabil, paparan suhu di bawah 0 °C (32 °F) untuk jangka waktu yang lama, umumnya akan membunuh tanaman dewasa. Hortikulturis yang berpengalaman telah menumbuhkan spesies ini di luar ruangan dan membawanya untuk dikembangkan di daerah ekstrem, selatan Florida.

Manggis bersifat apomiksis obligat, biji tidak berasal dari fertilisasi dan diduga mempunyai keanekaragaman genetik sempit, sehingga diperkirakan manggis di alam hanya satu klon dan sifatnya sama dengan induknya. Kenyataan di lapang menunjukkan adanya keanekaragaman tanaman manggis yang mungkin disebabkan faktor lingkungan mau pun faktor genetik akibat mutasi alami sejalan dengan sejarah tanaman manggis yang telah berumur ribuan tahun.

Buah manggis muda, dimana tidak memerlukan pemupukan untuk tumbuh, pertama kali akan berwarna hijau pucat atau hampir putih di bawah kanopi. Saat buah membesar selama 2 hingga 3 bulan ke depan, warna kulitnya akan menjadi hijau gelap. Pada periode ini, pertumbuhan ukuran buah dapat meningkat hingga kulitnya berukuran 6–8 cm (2,4-3,1 inchi) dengan diameter luar, akan tetap keras hingga pematangan akhir tiba.

Sifat kimia dari permukaan bawah kulit manggis terdiri dari berbagai polifenol, termasuk xanthones dan tanin yang menjamin astringent dapat menghambat perhatian serangga, jamur, virus tanaman, bakteri dan pemangsa hewan, pada saat buah belum matang. Perubahan warna dan pelunakan kulit menjadi proses alami yang menunjukkan pematangan buah dapat dimakan dan benih telah selesai berkembang. _wikipedia

Cara Tanam Buah Manggis dari Biji

Tanaman manggis yang ditanam dari biji akan mulai berbuah pada umur 10 tahun setelah tanam. Namun, hal tersebut sangat bergantung pada perawatan dan pemeliharaan yang dilakukan. Buah yang muda akan menunjukkan warna hijau dan kemudia akan berubah warna menjadi merah kehitaman.

Hal itu menandakan bahwa buah telah siap dipanen. Saat demikian merupakan waktu yang tepat untuk memanen buah sebelum buah matang di pohon dan jatuh. Gunakan tangga atau galah untuk memanen buah, karena pohon manggis memiliki tinggi 7-12 meter.

manggis4
Tunas Manggis usia 15 hari

Beberapa pendapat menyebutkan bahwasanya menanam manggis dari biji akan tetap menghasilkan buah yang percis dengan induknya, akan tetapi pohon buah manggis akan lama menghasilkan buah, akan tetapi menanam buah dari biji mempunyai ke “asiyk”an dan kepuasan tersendiri.

DSC_0012
Tunas Manggis Usia 1 bulan

Tanam Lengkeng

Lengkeng (juga disebut kelengkeng, matakucing, longan, Dimocarpus longan, suku lerak-lerakan atau Sapindaceae) adalah tanaman buah-buahan yang berasal dari daratan Asia Tenggara.Pohon lengkeng dapat mencapai tinggi 40 m dan diameter batangnya hingga sekitar 1 m. Berdaun majemuk, dengan 2-4(-6) pasang anak daun, sebagian besar berbulu rapat pada bagian aksialnya. Tangkai daun 1–20 cm, tangkai anak daun 0,5-3,5 cm. Anak daun bulat memanjang, panjang lk. 1-5 kali lebarnya, bervariasi 3-45 × 1,5–20 cm, mengertas sampai menjangat, dengan bulu-bulu kempa terutama di sebalah bawah di dekat pertulangan daun.

Perbungaan umumnya di ujung (flos terminalis), 4–80 cm panjangnya, lebat dengan bulu-bulu kempa, bentuk payung menggarpu. Mahkota bunga lima helai, panjang hingga 6 mm.

Buah bulat, coklat kekuningan, hampir gundul; licin, berbutir-butir, berbintil kasar atau beronak, bergantung pada jenisnya. Daging buah (arilus) tipis berwarna putih dan agak bening. Pembungkus biji berwarna coklat kehitaman, mengkilat. Terkadang berbau agak keras

Kegunaan Buah Lengkeng

Buah-buah ini terutama dimakan dalam keadaan segar. Buah lengkeng, terutama yang berdaging tebal dan besar, dikalengkan dalam sari buahnya di Thailand, Taiwan dan Tiongkok, baik ditambah gula maupun tidak. Lengkeng juga dikeringkan, untuk dijadikan bahan pembuat minuman penyegar.

Seperti halnya lerak, biji lengkeng yang mengandung saponin kadang-kadang dimanfaatkan untuk mencuci rambut. Biji, buah, daun dan bunga lengkeng juga digunakan sebagai bahan obat tradisional, terutama dalam ramuan Tiongkok. Daunnya mengandung quercetin dan quercitrin.

Kayu lengkeng dan kayu bedaro (Dimocarpus malayensis) merupakan kayu yang cukup baik untuk konstruksi ringan dalam rumah dan bahan perkakas. wikipedia

Tanam Lengkeng dari Biji

Arduino Garden Controller – Automatic Watering and Data Logging

Gardening in the modern age means making things more complicated and arduous, with electrons, bits, and bytes. Behold: the garduino. My brother got me an arduino microcontroller board for Christmas, which to me was a solution looking for a problem. I finally found the problem: fresh herbs are expensive at the grocery store. But apparently not as expensive as adding a bunch of sensors and electronics to your garden.
Combining microcontrollers and gardening is a really popular idea. I think that’s because gardens have very simple inputs and outputs that are easy to wrap your head around. I guess people (myself included) see a notoriously simple and relaxed hobby and can’t help but feel compelled to overcomplicate it. But just about anyone can connect the dots between “Garden needs water” and “I am not a responsible human being who is capable of remembering to water a garden every day” and realize, “Hey, I can use technology to overcome my personal shortcomings,” and more than that, “I can bend technology to my will and that will feel good to my ego and my sense of self-worth.” After all, no one’s hobby is to buy an irrigation controller off the shelf of a hardware store. Thanks for watching, and let me know what you think.
Moisture sensors that measure the resistance or conductivity across the soil matrix between two contacts are essentially junk. First of all, resistance is not a very good indicator of moisture content, because it is highly dependent on a number of factors which might vary from garden to garden including soil ph, dissolved solids in the water, and temperature. Second, most of them are of poor quality with contacts that easily corrode. For the most part you’d be lucky to get one to last through an entire season. Capacitive sensors are generally more accurate because they are just measuring the change in dialetric properties of the soil which is less sensitive to other environmental factors. They also don’t require any exposed conductive surfaces which means they can last a bit longer in the harsh environment of your backyard. My soil moisture sensor (and soil temperature sensor). http://www.vegetronix.com.

Parts List

The following list covers the major parts I used in the build. Depending on the electrical parts you already own, your plumbing and enclosures you use, you’ll need to season to taste. I’ve linked to the actual parts I used, when applicable.

  1. Arduino UnoSD
  2. Card Shield9V
  3. Power Supply
  4. Solenoid ValveDHT22
  5. Digital Temperature and Humidity SensorCdS
  6. PhotoresistorVH400
  7. Soil Moisture SensorTHERM200 Soil Temperature Sensor
  8. Some resistors
  9. TIP120 transistor (or a mosfet or relay) for switching on t
  10. he solenoidDiode to clamp voltage spikes from the solenoid
  11. A stevenson screen or other enclosure to protect the electronics from exposure to weather

Wiring Diagram

The schematic below shows the wiring of the controller.

wiring

The Code

/*
Automatic Garden Waterer and Datalogger
Grady Hillhouse (March 2015)
*/

#include “DHT.h”
#include <SPI.h>
#include <Wire.h>
#include “RTClib.h”
#include “SD.h”
#define DHTTYPE DHT22
#define ECHO_TO_SERIAL 1 //Sends datalogging to serial if 1, nothing if 0
#define LOG_INTERVAL 360000 //milliseconds between entries (6 minutes = 360000)

const int soilTempPin = A0;
const int soilMoisturePin = A1;
const int sunlightPin = A2;
const int dhtPin = 2;
const int chipSelect = 10;
const int LEDPinGreen = 6;
const int LEDPinRed = 7;
const int solenoidPin = 3;
const int wateringTime = 600000; //Set the watering time (10 min for a start)
const float wateringThreshold = 15; //Value below which the garden gets watered

DHT dht(dhtPin, DHTTYPE);
RTC_DS1307 rtc;

float soilTemp = 0; //Scaled value of soil temp (degrees F)
float soilMoistureRaw = 0; //Raw analog input of soil moisture sensor (volts)
float soilMoisture = 0; //Scaled value of volumetric water content in soil (percent)
float humidity = 0; //Relative humidity (%)
float airTemp = 0; //Air temp (degrees F)
float heatIndex = 0; //Heat index (degrees F)
float sunlight = 0; //Sunlight illumination in lux
bool watering = false;
bool wateredToday = false;
DateTime now;
File logfile;

/*
Soil Moisture Reference
Air = 0%
Really dry soil = 10%
Probably as low as you’d want = 20%
Well watered = 50%
Cup of water = 100%
*/

void error(char *str)
{
Serial.print(“error: “);
Serial.println(str);

// red LED indicates error
digitalWrite(LEDPinRed, HIGH);

while(1);
}

void setup() {

//Initialize serial connection
Serial.begin(9600); //Just for testing
Serial.println(“Initializing SD card…”);

pinMode(chipSelect, OUTPUT); //Pin for writing to SD card
pinMode(LEDPinGreen, OUTPUT); //LED green pint
pinMode(LEDPinRed, OUTPUT); //LED red pin
pinMode(solenoidPin, OUTPUT); //solenoid pin
digitalWrite(solenoidPin, LOW); //Make sure the valve is off
analogReference(EXTERNAL); //Sets the max voltage from analog inputs to whatever is connected to the Aref pin (should be 3.3v)

//Establish connection with DHT sensor
dht.begin();

//Establish connection with real time clock
Wire.begin();
if (!rtc.begin()) {
logfile.println(“RTC failed”);
#if ECHO_TO_SERIAL
Serial.println(“RTC failed”);
#endif //ECHO_TO_SERIAL
}

//Set the time and date on the real time clock if necessary
if (! rtc.isrunning()) {
// following line sets the RTC to the date & time this sketch was compiled
rtc.adjust(DateTime(F(__DATE__), F(__TIME__)));
}

//Check if SD card is present and can be initialized
if (!SD.begin(chipSelect)) {
error(“Card failed, or not present”);
}

Serial.println(“Card initialized.”);

// create a new file
char filename[] = “LOGGER00.CSV”;
for (uint8_t i = 0; i < 100; i++) {
filename[6] = i/10 + ‘0’;
filename[7] = i%10 + ‘0’;
if (! SD.exists(filename)) {
// only open a new file if it doesn’t exist
logfile = SD.open(filename, FILE_WRITE);
break; // leave the loop!
}
}

if (! logfile) {
error(“couldnt create file”);
}

Serial.print(“Logging to: “);
Serial.println(filename);

logfile.println(“Unix Time (s),Date,Soil Temp (F),Air Temp (F),Soil Moisture Content (%),Relative Humidity (%),Heat Index (F),Sunlight Illumination (lux),Watering?”); //HEADER
#if ECHO_TO_SERIAL
Serial.println(“Unix Time (s),Date,Soil Temp (F),Air Temp (F),Soil Moisture Content (%),Relative Humidity (%),Heat Index (F),Sunlight Illumination (lux),Watering?”);
#endif ECHO_TO_SERIAL// attempt to write out the header to the file

now = rtc.now();

}

void loop() {

//delay software
delay((LOG_INTERVAL -1) – (millis() % LOG_INTERVAL));

//Three blinks means start of new cycle
digitalWrite(LEDPinGreen, HIGH);
delay(150);
digitalWrite(LEDPinGreen, LOW);
delay(150);
digitalWrite(LEDPinGreen, HIGH);
delay(150);
digitalWrite(LEDPinGreen, LOW);
delay(150);
digitalWrite(LEDPinGreen, HIGH);
delay(150);
digitalWrite(LEDPinGreen, LOW);

//Reset wateredToday variable if it’s a new day
if (!(now.day()==rtc.now().day())) {
wateredToday = false;
}

now = rtc.now();

// log time
logfile.print(now.unixtime()); // seconds since 2000
logfile.print(“,”);
logfile.print(now.year(), DEC);
logfile.print(“/”);
logfile.print(now.month(), DEC);
logfile.print(“/”);
logfile.print(now.day(), DEC);
logfile.print(” “);
logfile.print(now.hour(), DEC);
logfile.print(“:”);
logfile.print(now.minute(), DEC);
logfile.print(“:”);
logfile.print(now.second(), DEC);
logfile.print(“,”);
#if ECHO_TO_SERIAL
Serial.print(now.unixtime()); // seconds since 2000
Serial.print(“,”);
Serial.print(now.year(), DEC);
Serial.print(“/”);
Serial.print(now.month(), DEC);
Serial.print(“/”);
Serial.print(now.day(), DEC);
Serial.print(” “);
Serial.print(now.hour(), DEC);
Serial.print(“:”);
Serial.print(now.minute(), DEC);
Serial.print(“:”);
Serial.print(now.second(), DEC);
Serial.print(“,”);
#endif //ECHO_TO_SERIAL

//Collect Variables
soilTemp = (75.006 * analogRead(soilTempPin)*(3.3 / 1024)) – 42;
delay(20);

soilMoistureRaw = analogRead(soilMoisturePin)*(3.3/1024);
delay(20);

//Volumetric Water Content is a piecewise function of the voltage from the sensor
if (soilMoistureRaw < 1.1) {
soilMoisture = (10 * soilMoistureRaw) – 1;
}
else if (soilMoistureRaw < 1.3) {
soilMoisture = (25 * soilMoistureRaw) – 17.5;
}
else if (soilMoistureRaw < 1.82) {
soilMoisture = (48.08 * soilMoistureRaw) – 47.5;
}
else if (soilMoistureRaw < 2.2) {
soilMoisture = (26.32 * soilMoistureRaw) – 7.89;
}
else {
soilMoisture = (62.5 * soilMoistureRaw) – 87.5;
}

humidity = dht.readHumidity();
delay(20);

airTemp = dht.readTemperature(true);
delay(20);

heatIndex = dht.computeHeatIndex(airTemp,humidity);

//This is a rough conversion that I tried to calibrate using a flashlight of a “known” brightness
sunlight = pow(((((150 * 3.3)/(analogRead(sunlightPin)*(3.3/1024))) – 150) / 70000),-1.25);
delay(20);

//Log variables
logfile.print(soilTemp);
logfile.print(“,”);
logfile.print(airTemp);
logfile.print(“,”);
logfile.print(soilMoisture);
logfile.print(“,”);
logfile.print(humidity);
logfile.print(“,”);
logfile.print(heatIndex);
logfile.print(“,”);
logfile.print(sunlight);
logfile.print(“,”);
#if ECHO_TO_SERIAL
Serial.print(soilTemp);
Serial.print(“,”);
Serial.print(airTemp);
Serial.print(“,”);
Serial.print(soilMoisture);
Serial.print(“,”);
Serial.print(humidity);
Serial.print(“,”);
Serial.print(heatIndex);
Serial.print(“,”);
Serial.print(sunlight);
Serial.print(“,”);
#endif

if ((soilMoisture < wateringThreshold) && (now.hour() > 19) && (now.hour() < 22) && (wateredToday = false)) {
//water the garden
digitalWrite(solenoidPin, HIGH);
delay(wateringTime);
digitalWrite(solenoidPin, LOW);

//record that we’re watering
logfile.print(“TRUE”);
#if ECHO_TO_SERIAL
Serial.print(“TRUE”);
#endif

wateredToday = true;
}
else {
logfile.print(“FALSE”);
#if ECHO_TO_SERIAL
Serial.print(“FALSE”);
#endif
}

logfile.println();
#if ECHO_TO_SERIAL
Serial.println();
#endif
delay(50);

//Write to SD card
logfile.flush();
delay(5000);
}

The arudino’s analog inputs read voltage, so to use a resistive sensor (like the photoresistor I used to measure sunlight), you have to set up a voltage divider. This is just a really simple circuit which divides the voltage drop between your sensor and a known resistor. You know the current is the same for both, so you can calculate the resistance of your sensor using ohm’s law. The only problem here is that a photoresistor’s relationship to illuminance is log-log, that is to say it spans several orders of magnitude. So if you use a big resistor (5k – 10k ohm) in your voltage divider, your sensor will be sensitive to low light levels, but you won’t be able to tell the difference between a sunny day and an overcast one. Since this thing’s going outside, I used a 100 ohm resistor, which should hopefully give me good differentiation between levels of brightness in the daylight. Copyright (c) 2015 Grady Hillhouse

Tanam Buah Kiwi

Kiwi adalah sejenis buah beri yang dapat dimakan dari tanaman merambat berkayu dalam genus Actinidia. Actinidia asli berasal dari Shaanxi, Tiongkok.

Buah kiwi yang normal berbentuk oval, kira-kira sebesar telur ayam (5–8 cm / 2–3 in dan diameter 4.5–5.5 cm / 1¾–2 ). Buah ini kaya serat, kulit berwarna hijau-kecokelatan dan daging buah berwarna hijau terang atau keemasan dengan biji kecil, hitam, dan bisa dimakan. Tekstur buah ini sangat halus dan rasanya yang unik, saat ini buah kiwi sudah ditanam di berbagai negara.

Buah ini awalnya bernama Gosberi Cina, buah ini dinamai kembali dengan alasan ekspor marketing pada tahun 1950-an, menjadi melonette, kemudian kiwi. Nama buah ini berasal dari kiwi-burung yang tak bisa terbang dari Selandia Baru.

Khasiat Buah Kiwi :

Dr. Marlyn Glenville, mantan Presiden Food and Health Forum (Bahasa Indonesia: Forum Kesehatan dan Makanan), mengatakan bahwa kulit buah kiwi yang berambut mengandung antioksidan yang tinggi. Kulit buah kiwi mengandung antioksidan tiga kali lebih banyak daripada dagingnya. Manfaat dari kandungan antioksidan yang tingi, antara lain:

  • Antikanker;
  • Anti peradangan;
  • Antialergen;
  • Melawan bakteri: Staphylococcus dan E-coli, yang membuat manusia keracunan makanan.

Obat Hipertensi

Dalam pertemuan American Heart Association (Bahasa Indonesia: Asosiasi Jantung Amerika) di Orlando, Amerika Serikat, dipublikasikan hasil penelitian tentang khasiat buah kiwi yang dapat dengan efektif menurunkan hipertensi. Penelitian yang dilakukan oleh Mette Svendsen dari Universitas Rumah Sakit Oslo (Bahasa Inggris: Oslo University Hospital), Norwegia, menyebutkan konsumsi kiwi tiga kali dalam sehari cukup efektif menurunkan hipertensi. Penelitian tersebut dilakukan selama 8 minggu terhadap 118 orang berusia 55 tahun dan menderita hipertensi sedang. Para responden dibagi ke dalam dua kelompok, pertama adalah yang mengonsumsi tiga buah kiwi setiap hari dan sisanya mengonsumsi makanan yang mengandung apel satu kali dalam sehari. Setelah 8 minggu, para peneliti menemukan nilai tekanan sistolik (angka tekanan darah sebelah atas) para partisipan lebih rendah 3,6 milimeter dibanding dengan partisipan yang mengonsumsi apel. Walau kelompok pemakan kiwi memiliki tekanan darah lebih rendah, namun para peneliti belum mengetahui apakah penyebab utamanya. Hal ini baru bisa dikonfirmasi dengan penelitian yang lebih luas.

Kandungan penting buah kiwi

Dalam buah kiwi terdapat ion potasium yang dapat menurunkan tekanan darah tinggi.

Cara Tanam Buah Kiwi dari Biji

Cara menanam buah kiwi agar tumbuh subur dan berbuah rimbun, anda tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk merawat pohon ini seperti jenis- jenis tanaman lainnya. Hanya dengan menyiram. Memupuk serta membersihkan hama yang dapat mengganggu proses pertumbuhan dari pohon kiwi.

DSC_0263

Arduino Smart Plant Watering

Arduino Smart Plant Watering

F3VJZX0J7AQS6RL

Step 1: Gathering the Parts

FULFAQ1J76GIFHF

To Process this instructables we’ll need to use “Crowtail smart pump kit” which the link to it can be found right

The Kit will include:

  • x4 Crowtail soil moisture sensors
  • x1 Crowtail Smart Pump Shield
  • x1 Crowtail Water Pump
  • x1 12V Adapter
  • x1 Four channels water valve
  • x1 one long water pipe (later we’ll cut it to 6 pieces for our project)
  • You will also Need Crowduino Uno / Arduino Uno for the project

Why This Kit?

  • Eliminate the need of breadboard and jumpers
  • Less mess more productivity!
  • Easy to use, just plug and play, anyone can do it!
  • 12v connector for the pump and split into 5v for the arduino as well!
  • Control up to 4 flowers at once with one shield!

Step 2: Uploading the Code to the Arduino Board

F3JXBKWJ6QQM51N

The next step will be uploading our code to the Arduino board, we do it first because after connecting all the sensors and pumps it might get a little bit messy and difficult to connect, better do it now when you only have the board in your hand! the code can be found at the bottom of this instructable, make sure that you choose Arduino Uno regarding the device you use (Arduino Or Crowduino Uno) in the ArduinoIDE.

If you are not familiar with Arduino, follow the following steps:

  1. connect your Arduino board by USB to your computer
  2. open Arduino IDE (if you don’t have it, make sure to download it from their official website)
  3. Open the project we gave at the bottom of the Instructable page
  4. On top of the Arduino IDE choose “Tools > Board > Arduino UNO”
  5. Click the V sign to verify the code and then right next to it the arrow-right button to push the code!

// set all moisture sensors PIN ID
int moisture1 = A0;
int moisture2 = A1;
int moisture3 = A2;
int moisture4 = A3;

// declare moisture values
int moisture1_value = 0;
int moisture2_value = 0;
int moisture3_value = 0;
int moisture4_value = 0;

// set water relays
int relay1 = 3;
int relay2 = 4;
int relay3 = 5;
int relay4 = 6;

// set water pump
int pump = 2;

void setup() {
// declare relay as output
pinMode(relay1, OUTPUT);
pinMode(relay2, OUTPUT);
pinMode(relay3, OUTPUT);
pinMode(relay4, OUTPUT);
// declare pump as output
pinMode(pump, OUTPUT);
// declare the ledPin as an OUTPUT:
Serial.begin(9600);
}

void loop() {

// read the value from the moisture sensors:
moisture1_value = analogRead(moisture1);
moisture2_value = analogRead(moisture2);
moisture3_value = analogRead(moisture3);
moisture4_value = analogRead(moisture4);

// check which plant need water
// and open the switch for that specific plant

//if(moisture1_value<=450){
// digitalWrite(relay1, HIGH);
//}
//if(moisture2_value<=450){
// digitalWrite(relay2, HIGH);
//}
//if(moisture3_value<=450){
// digitalWrite(relay3, HIGH);
//}
//if(moisture4_value<=450){
// digitalWrite(relay4, HIGH);
//}

digitalWrite(pump, HIGH);
digitalWrite(relay1, HIGH);
delay(500);
digitalWrite(relay2, HIGH);
delay(500);
digitalWrite(relay3, HIGH);
delay(500);
digitalWrite(relay4, HIGH);
delay(500);
digitalWrite(relay1, LOW);
delay(500);
digitalWrite(relay2, LOW);
delay(500);
digitalWrite(relay3, LOW);
delay(500);
digitalWrite(relay4, LOW);
digitalWrite(pump, LOW);
delay(500);

// make sure there is at least one plant that needs water
// if there is, open the motor
//if(moisture1_value<=450 || moisture2_value<=450 || moisture3_value<=450 || moisture4_value<=450){
// digitalWrite(pump, HIGH);
//}

// let it water the plant for 5 seconds
//delay(5000);

// turn the pump off
//digitalWrite(pump, LOW);

// go each switch and turn them off
//digitalWrite(relay1, LOW);
//digitalWrite(relay2, LOW);
//digitalWrite(relay3, LOW);
//digitalWrite(relay4, LOW);

// wait 5 minutes and repeat the process
//Serial.println(moisture1_value);
//delay(10000);
//delay(300000);

}

Step 3: Connecting the Shield to the Arduino Board

Easy as it sounds – the next step will be connecting our smart pump shield to the arduino board.

NOTE: When you putting them one on top the other and connecting them together, make sure to do it slowly and easily as the Smart pump shield pins might be a bit sensitive.

After putting them together – it should look exactly as the picture below

Step 4: Connecting the Pump and the Switch

The Next step will be connecting our 4 channels switch that will control the water direction and the pump,

Moving to the switch:
It’s difficult to miss – the switch is the biggest interface on the shield. make sure you place it at the right direction and it should *click* Now we got both pump and the switch connected to the board successfully

We’ll start from the water pump:

if you look closely at your board, there are 6 crowtail interfaces aligned one with each other, this is the sensors interfaces. next to that there is one small lonely interface, smaller than the other one’s – that’s the pump interface.

you’ll know it’s the right interface when it will fit – the pump is the smallest interface between them all.

Step 5: Connecting the Soil Moisture Sensors

The next step will be connecting the soil moisture sensors, we’ll use this sensors to detect the soil level inside the plants and determine if they need water or not.

We’ll connect it by using the 4 out of 6 Crowtail sensors interfaces, because we use 4/6 we can use the other two to give more advanced features to our project, few examples can be:

  • adding light sensors to know if the plants get enough lights
  • adding humidity sensor to detect if the humidity is alright
  • temperature sensor to make sure it’s not too hot or too cold
  • rain sensor to detect if it’s raining now and no need to water them and more …
  • The order of the sensors is as following
  • A0 – Flower number 1, in the switch it’s the first one close to the water source interface
  • A1 – Flower Number 2, in the switch it’s the second one from the direction of the water source interface.
  • A2 – Flower Number 3, in the switch it’s the third one from the direction of the water source interface.
  • A3 – Flower Number 4, in the switch it’s the fourth one from the direction of the water source interface.

NOTE: Make sure it’s correct else the pump will give water to the wrong flower!

Step 6: Connecting the Water Pipes

This step require to gather some scissors or knife.

we’ll need to take the water pipe from the kit and cut it to 6 parts.

make sure the length is identical and better if the pipe that goes inside the water source (in our case it’s a bottle of water) will be long enough to reach the water.

after we finish cutting it – it’s time to connect them!

we’ll connect 2 of them into our pump, one of the pump sides sucking the water while the other one pushing the water out. it might be confusing at first which one is which but if you look very very carefully on the pump it says “IN” and “OUT” the one that is “IN” should go to the water source while the one that is “OUT” should go to the switch.

After connecting the pump we’ll need to wire it to our switch. the switch have 5 inputs. 4 of them are lined up, those are going directly to the flowers, the one that is on the left side, goes to the pump OUTPUT.

The switch works by closing a circuit at specific channel – it will let the water flow, if no circuit been closed, the water could not flow. we’ll be opening the channels by the demand of the flowers to get water, that way – only the flowers that need in water, will get it.

Step 7: Powering It Up!

FUH2FDGJ6QQM51M

The Last step will be – Powering it up!

Now, this is one of the best features in our board. both the pump and the switch requires 12v input while the arduino can only stand 5v, so instead of supplying different power supplies to the arduino, the pump and the switch we made our shield to split the power between the arduino and the other devices. that way – the arduino will get 5v while the pump and the switch will get 12v.

NOTE: When connecting the power supply, make sure to connect it into the shield board and NOT the arduino. there is NO need in two power supplies as the shield will give power to the arduino as well.

We hope you find this instructable useful, easy and fun! we worked hard to make the most simple yet powerful kit, you can use the smart shield not only for this projects but for others too! let us know what will you make and the way you use our kit.

Source : instructables